
Dalam pengiriman impor melalui jalur laut, volume barang sering menjadi pertimbangan awal untuk menentukan metode pengiriman. Ketika muatan masih berkisar 8–12 CBM (meter kubik), banyak importir langsung memilih LCL karena merasa belum membutuhkan satu kontainer penuh.
Pertimbangannya masuk akal. LCL atau Less than Container Load (pengiriman gabungan dalam satu kontainer) memungkinkan importir membayar berdasarkan kapasitas yang digunakan. Sementara FCL atau Full Container Load (penggunaan satu kontainer secara eksklusif) mengenakan biaya untuk satu kontainer, meskipun ruangnya belum terisi penuh.
Namun, ada persoalan yang sering luput dari perhitungan.
Tarif pengiriman laut yang lebih rendah belum tentu menghasilkan total biaya logistik yang lebih murah.
Biaya LCL Tidak Berhenti pada Tarif Pengiriman Laut
Biaya LCL dihitung menggunakan dasar Weight or Measurement (perbandingan berat dan volume), dengan mengambil nilai yang lebih besar antara berat dalam ton dan volume dalam CBM.
Artinya, importir dengan barang berukuran 10 CBM belum tentu dikenakan biaya berdasarkan 10 CBM apabila beratnya melebihi 10 ton.
Selain tarif angkutan laut, terdapat biaya penanganan di negara asal, biaya konsolidasi, dokumentasi, serta biaya pembongkaran dan pemisahan barang di gudang konsolidasi atau CFS (Container Freight Station) negara tujuan.
Biaya tersebut dapat dihitung berdasarkan volume, berat, atau per pengiriman, bergantung pada ketentuan penyedia layanan.
Sementara itu, FCL memiliki struktur biaya tersendiri, termasuk tarif kontainer, biaya terminal, pengurusan dokumen, serta pengangkutan darat yang relevan.
Di sinilah perbandingan tarif per CBM dengan tarif satu kontainer sering menghasilkan kesimpulan keliru.
Simulasi Impor 10 CBM dari China ke Surabaya
Ambil contoh perencanaan impor barang umum melalui pelabuhan Ningbo menuju Surabaya dengan volume 10 CBM.
Untuk LCL, perhitungan dimulai dari tarif angkutan laut berdasarkan satuan yang dikenakan biaya, ditambah biaya penanganan di Ningbo, biaya CFS di Surabaya, dokumentasi, dan pengiriman menuju gudang importir.
Untuk FCL ukuran 20 kaki, perhitungannya menggunakan tarif satu kontainer, ditambah biaya terminal, dokumentasi, pengangkutan darat, serta biaya lain yang berlaku.
Tanpa penawaran aktual untuk rute dan periode keberangkatan yang sama, belum dapat dipastikan metode mana yang lebih murah.
Namun, simulasi strukturnya memberikan gambaran penting.
Ketika volume meningkat dari 8 menjadi 12 CBM, komponen LCL yang dihitung per CBM ikut meningkat apabila dasar penagihannya tetap berdasarkan volume. Sebaliknya, tarif dasar FCL tetap dihitung per kontainer selama muatan masih memenuhi kapasitas dan batas berat yang diperbolehkan.
Kondisi inilah yang memungkinkan selisih biaya kedua metode semakin mengecil.
Meski demikian, pada volume 8–12 CBM, LCL dalam banyak kondisi masih lebih ekonomis. FCL baru layak diprioritaskan apabila perhitungan biaya keseluruhan atau kebutuhan operasional benar-benar mendukungnya. Tetapi kondisi ini kembali pada kesepakatan terms yang diambil di awal dengan pihak shipper. Kondisi volume 8-12 CBM masih terhitung ekonomis ketika terms yang dipilih adalah FOB, Bukan CIF. Karena jika dengan menggunakan terms FOB, local charge undercontrol importir. Jika pengiriman dengan terms CIF LCL dalam banyak kondisi sangat membebani importir karena local charge seperti bom waktu yang baru akan diketahui ketika kapal sudah sandar. Jadi dalam kondisi tersebut FCL masih lebih ekonomis.
Selisih Biaya Kecil Bisa Memengaruhi Keputusan Besar
Ada satu variabel lain yang perlu diperhitungkan, yaitu waktu pengiriman.
LCL membutuhkan proses penggabungan barang sebelum keberangkatan dan pemisahan setelah tiba. Proses tambahan ini dapat memengaruhi waktu barang tersedia untuk diambil.
Bagi importir bahan baku produksi, keterlambatan tersebut bisa memengaruhi jadwal produksi, perputaran persediaan, dan arus kas. Bahkan penghematan biaya pengiriman berpotensi hilang ketika keterlambatan mengganggu pemenuhan pesanan pelanggan.
FCL memiliki tahapan penanganan barang yang lebih sedikit, tetapi tetap menghadapi risiko keterlambatan kapal, pemeriksaan kepabeanan, serta biaya penumpukan dan keterlambatan pengembalian kontainer.
Jadi, FCL pun bukan jaminan pengiriman selalu lebih cepat.
Jangan Menentukan Metode Pengiriman Hanya dari Volume
Untuk importir profesional, keputusan ideal dimulai dengan meminta dua penawaran untuk rute, jenis barang, jadwal, dan cakupan layanan yang sama.
Periksa seluruh biaya dari titik pengambilan hingga gudang tujuan. Kemudian bandingkan perkiraan waktu barang siap digunakan, risiko penanganan, serta konsekuensinya terhadap biaya persediaan.
Di HSH Cargo, pendekatan seperti ini menjadi dasar diskusi untuk mengevaluasi pilihan pengiriman sesuai kebutuhan operasional dan biaya bisnis importir.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengiriman bukan seberapa murah tarif awal yang ditawarkan, melainkan seberapa terkendali biaya dan waktu barang sampai ke tujuan.
Jika volume impor Anda berada di kisaran 8–12 CBM, sudahkah Anda membandingkan total biaya LCL dan FCL sebelum menentukan pilihan?
Sebelum menentukan LCL atau FCL, diskusikan terlebih dahulu volume, jenis barang, rute pengiriman, dan kebutuhan waktu kedatangan bersama tim HSH Cargo. Kami siap membantu Anda membandingkan komponen biaya pengiriman agar keputusan impor lebih terukur.
Kunjungi hsh.co.id untuk mendiskusikan kebutuhan logistik bisnis Anda.