
Dubai masuk 2026 dengan momentum perdagangan dan pariwisata yang kuat. Sepanjang 2025, kota ini menerima 19,59 juta wisatawan internasional, naik 5 persen dibanding 2024. Pada Januari sampai Juni 2026, perdagangan Indonesia dan Uni Emirat Arab mencapai USD 3,14 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 1,76 miliar. Bagi eksportir handcraft (kerajinan tangan), angka ini memberi sinyal bahwa Dubai layak diuji sebagai pasar.
Tapi nah ini nih, pasar yang ramai tidak otomatis membuat produk kriya mudah masuk.
Produk seperti dekorasi rumah, keranjang anyaman, ukiran kayu, keramik, aksesori meja, atau suvenir memang bisa diuji ke segmen ritel, perhotelan, interior, dan hadiah korporat. Masalahnya bukan di ada atau tidak ada pembeli. Masalahnya ada pada kecocokan produk, harga akhir setelah logistik, dan kesiapan dokumen sejak awal.
Yang sering terjadi di lapangan, eksportir sudah mendapat calon pembeli lalu langsung bicara ongkos kirim. Padahal sebelum menghitung biaya angkut, material produknya harus dibedah dulu.
Kerajinan berbahan kayu, rotan, serat tumbuhan, kulit, logam, atau campuran bahan dapat memiliki klasifikasi kode HS dan persyaratan berbeda. Salah menentukan kode HS bisa membuat perhitungan bea masuk, dokumen asal barang, sampai perizinan di negara tujuan ikut meleset.
Untuk ekspor dari Indonesia, eksportir perlu memiliki NIB yang berlaku sebagai akses kepabeanan. Pengiriman komersial juga diberitahukan melalui PEB berdasarkan dokumen seperti faktur dagang, daftar kemasan, dan dokumen teknis lain jika barang terkena ketentuan tertentu. Sejak 3 Agustus 2026, Bea Cukai menerapkan kewajiban unggah dokumen pelengkap tertentu saat penyampaian PEB. Kualitas administrasi makin sulit diperlakukan sebagai urusan belakangan.
Di sisi Dubai, Dubai Customs mencantumkan faktur, daftar kemasan, Surat Keterangan Asal, serta izin dari instansi pembatasan bila diperlukan sebagai dokumen deklarasi pabean. Untuk pengiriman laut, Bill of Lading atau B/L (dokumen pengangkutan laut) juga perlu selaras dengan data pengiriman. Jadi sebelum barang berangkat, jumlah kemasan, berat, nilai transaksi, negara asal, deskripsi barang, dan kode HS harus konsisten. Selisih kecil di dokumen bisa berubah menjadi koreksi, biaya tambahan, atau waktu tunggu.
Ada keuntungan lain yang sering luput.
Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan UEA atau IUAE-CEPA berlaku sejak 1 September 2023. Eksportir dapat memeriksa apakah kode HS produknya memperoleh tarif preferensi dan apakah barang memenuhi ketentuan asal. Untuk klaim preferensi, Surat Keterangan Asal Formulir IUAE menjadi dokumen penting. Namun jangan dibalik. Jangan mengejar tarif nol lebih dulu lalu mencari kode HS yang terlihat cocok. Tentukan klasifikasi berdasarkan karakter barang, baru cek fasilitas yang tersedia.
Contohnya begini.
Eksportir Indonesia mendapat pesanan dekorasi berbahan kayu untuk pembeli di Dubai. Harga pabrik terlihat menarik. Setelah dihitung, ternyata kemasan harus diperkuat, volume kargo membesar, klasifikasi barang perlu dipastikan, dan materialnya membutuhkan pengecekan tambahan.
Kalau semua itu baru diketahui menjelang keberangkatan, margin bisa turun.
Arus kas ikut tertahan karena pembayaran pembeli sering terkait jadwal keberangkatan atau penerimaan barang. Untuk produsen kecil yang bergantung pada satu atau dua pesanan ekspor, gangguan arus kas bisa memaksa produksi dikurangi bahkan berhenti sementara. Kredibilitas perusahaan di mata pembeli juga ikut turun jika keterlambatan terjadi berulang.
Menurut pengalaman saya, titik buta eksportir kriya justru sering ada pada detail yang dianggap administratif. Padahal pembeli luar negeri membaca konsistensi pengiriman sebagai bagian dari kualitas produk.
Karena itu, strategi masuk Dubai harus dimulai dari alur yang benar. Pastikan produk dan materialnya jelas, tentukan kode HS serta persyaratan dokumennya, lalu hitung biaya logistik sampai tujuan sebelum mengunci harga jual. Setelah itu baru pilih skema pengiriman yang sesuai dengan volume dan kebutuhan pembeli.
Berdasarkan data pengiriman yang sudah berjalan di HSH Cargo, Dubai termasuk lima negara tujuan ekspor yang sering kami tangani. Itu membuat diskusi soal rute, dokumen, dan risiko bisa dimulai dari kondisi pengiriman nyata, bukan asumsi.
Pertanyaannya sekarang, produk kriya Anda sudah siap dijual ke Dubai, atau baru terlihat siap karena harga produknya sudah menarik?
Jika Anda sedang menyiapkan ekspor handcraft ke Dubai, HSH Cargo dapat membantu memetakan kebutuhan dokumen, rute pengiriman, dan risiko berdasarkan karakter barang yang akan dikirim.
Diskusikan sejak awal sebelum harga jual dan jadwal keberangkatan dikunci, agar biaya logistik dan kebutuhan dokumen sudah masuk dalam perhitungan bisnis Anda.