Strategi HSH Cargo Membantu UMKM Seni Menembus Pasar Internasional

Suatu saat, ada anak muda datang ke kantor HSH Cargo di Surabaya sini. Masih muda banget, kayaknya baru lulus kuliah. Dia bawa katalog produk kerajinan kulit… tas dan dompet… gila, desainnya keren banget. Berani.

Dia duduk di depan meja saya, tangannya dingin, mukanya agak pucat.

Terus dia bilang, “Mbak, saya dapat PO dari buyer di Amsterdam. Tapi…”

Nah… “tapi”-nya ini lho. Selalu ada “tapi” yang bikin gemes.

“Saya nggak ngerti apa-apa, Mbak. Saya takut. Takut ditipu. Takut barang saya rusak di jalan. Takut… biayanya nanti malah lebih mahal daripada nilai PO-nya.”

Saya senyum.

Ini dia. Ini tantangan klasik yang dialami 9 dari 10 UMKM seni kita. Karyanya udah level dewa, siap bersaing di panggung dunia. Tapi mentalnya stuck di pintu gerbang, takut sama yang namanya “EKSPOR“.

Banyak yang mikir ekspor itu cuma buat pabrik gede yang bisa kirim puluhan kontainer. Padahal? Itu mitos jadul.

Di HSH Cargo, kami justru paling senang kerja sama “pemain baru” yang masih takut-takut ini. Strategi kami bukan cuma jadi tukang angkut. Bukan. Kami jadi “kakak asuh”-nya.

masalah Pertama: Mitos “Harus Sewa Satu Kontainer Penuh”

Ini ketakutan nomor satu: Biaya.

“Saya kan cuma kirim 20 tas, Mbak. Paling cuma 1 kubik. Masa saya harus sewa satu kontainer 20 feet yang harganya puluhan juta? Nggak nutup!”

Ini pemikiran yang salah… ya nggak salah juga sih sebenernya… tapi kurang update.

Emangnya kalau Anda mau ke Jakarta dari Surabaya harus sewa satu gerbong kereta sendirian? Nggak kan? Anda beli tiket ekonomi satu kursi, duduk manis, nyampe.

Solusi yang kami tawarkan adalah LCL (Less than Container Load).

Strategi kami adalah jadi “terminal”-nya. Kami yang kumpulin barang Anda (yang 20 tas tadi), barang Ibu pengrajin patung di Bali (yang 2 kubik), barang galeri di Jogja (yang 3 lukisan). Kami gabungin semua dalam satu kontainer.

Hasilnya? Anda bayar ya sesuai “kursi” yang Anda pakai. Kirim 1 kubik? Ya bayar 1 kubik. Adil kan? Ini penting banget. Serius, ini penting banget buat cash flow UMKM yang baru merintis.

masalah Kedua: Horor Dokumen yang Kayak Bahasa Planet

Oke, ongkos beres. Masalah kedua muncul. Dokumen.

Begitu kami sebut kata HS Code, Commercial Invoice, PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang), atau V-Legal (ini WAJIB kalau barang Anda ada unsur kayunya, WAJIB BANGET)… muka klien UMKM biasanya langsung kayak habis lihat hantu. Pucat.

Wajar. Saya juga kalau disuruh baca dokumen medis hasil MRI ya pusing tujuh keliling.

Lha, ngisinya gimana?

Strategi kami beda. Kami nggak mau jadi forwarder robot. solusinya adalah: Kami jadi “Asisten Pribadi” Ekspor Anda.

Tim saya di HSH (yang udah saya cerewetin tiap hari) bakal duduk bareng Anda.

“Oke, barangnya apa? Fotonya mana? Bahannya kulit asli atau sintetis?”

Nanti kami yang bantu carikan HS Code-nya biar pajaknya pas.

“Pak, invoice-nya jangan cuma tulis ‘Tas Kulit’ ya, tambahin detailnya biar nggak dicurigai bea cukai sana.”

“Bu, ini ada kayunya? V-Legal-nya udah ada? Belum? Tenang, urusnya ke sini…”

Kami pandu satu per satu. Kami terjemahkan bahasa “planet” pabean itu ke bahasa manusia. Biar Anda fokus aja bikin karya, jangan sampai energi kreatif Anda habis cuma buat mikirin birokrasi.

masalah Ketiga: “Packing Saya Cuma Kardus Bekas, Nanti Ambyar Nggak?”

Ini ketakutan paling nyata.

Banyak UMKM kita yang kirim kerajinan keramik atau gerabah… tapi bungkusnya pakai kardus bekas mi instan diganjel koran. Ya ampun.

Itu kalau dikirim antarkecamatan naik ojol mungkin selamat. Tapi kalau harus naik kapal nyebrang samudra berhari-hari, kena ombak, ditumpuk kontainer lain? Ya jelas ambyar.

Eh, ngomong-ngomong soal packing, saya jadi inget dulu awal-awal karir saya di logistik. Ada klien kirim patung terakota. Packing-nya kardus tebal. Sampai di Eropa, jadi bubuk. Serius, kayak bubuk kopi. Kolektornya ngamuk. Itu pelajaran mahal banget.

Kami paham, UMKM nggak punya alat dan bahan buat bikin peti kayu standar ekspor.

Maka strategi HSH adalah Layanan Terintegrasi (Satu Pintu).

Kami nggak akan biarkan karya Anda berangkat “telanjang”. Nggak akan. Kami punya tim in-house yang akan datang ukur barangnya, bikinin “baju zirah”-nya.

Kami bikinkan peti kayu custom yang sudah berstempel ISPM 15. (Ini stempel sakti biar kayu Anda nggak ditolak atau dibakar di pelabuhan tujuan). Kami kasih busa peredam getaran yang pas.

Memang ada biaya tambahan? Jelas ada. Tapi percaya deh, biaya itu jauh lebih murah daripada reputasi Anda hancur karena kirim barang rusak.

Bagaimana dengan Bisnis Anda?

Anda punya karya keren di workshop? Anda pengrajin yang selama ini cuma berani jual lokal padahal banyak bule naksir?

Apa yang bikin Anda takut?

Biaya? Dokumen? Packing?

Semua masalah itu ada solusinya. Yang penting Anda ketemu partner yang bener. Partner yang mau “ngemong”, yang mau ngajarin, bukan yang cuma cari untung sekali pukul terus kabur.

Kami di HSH Cargo senang banget lihat UMKM tumbuh. Serius. Kalau hari ini Anda kirim 1 kubik kami layani sepenuh hati. Siapa tahu tahun depan Anda jadi kirim 1 kontainer penuh sendirian. Wah, kami yang paling bangga.

Ya udah deh segitu dulu… intinya jangan minder. Ekspor itu bukan cuma buat yang “gede-gede”. Yang “kecil” pun bisa, asal strateginya pas.

Kalau mau ngobrol-ngobrol, mampir aja ke kantor HSH Cargo Surabaya. Kita ngopi. Kita obrolin ketakutan Anda. Nggak usah bayar kok buat nanya.Mulai aja dulu! Wassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses