Prinsip-Prinsip HSH dalam Menjaga Karya Seni Selama Proses Ekspor

Rahasia Dapur Kami Biar Barang Nggak “Ambyar” di Jalan

Jujur saja, pagi ini kopi saya rasanya agak pahit. Bukan salah baristanya sih, tapi gara-gara barusan saya baca berita di grup WhatsApp asosiasi logistik. Ada kasus lukisan kuno—nilainya miliaran rupiah—yang dikirim dari Asia ke Eropa, pas sampai sana kanvasnya jamuran parah. Warnanya pudar.

Kebayang nggak sih senimannya atau kolektornya pas unboxing? Mungkin rasanya kayak video-video fail compilation yang sering lewat di fyp, tapi versi nggak lucu sama sekali.

Banyak orang mikir… “Ah, kirim lukisan kan tinggal gulung, masukin tabung paralon, beres.”

Aduh. Tolong yaa…

Prinsip kami di HSH Cargo itu simpel tapi kaku banget soal ini. Barang seni itu bukan benda mati. Dia punya “nyawa”. Dia sensitif. Salah perlakuan sedikit, nilainya bisa terjun bebas.

Nah, mumpung saya lagi gemes banget sama kasus tadi, saya mau bongkar sedikit “dapur” kami. Ini prinsip-prinsip yang kami pegang erat-erat saat menangani barang seni.

Diagnosa Dulu, Bungkus Kemudian

Ini prinsip nomor satu. Dan sering dilanggar banyak ekspedisi yang maunya cepet beres.

Sebelum kami sentuh barangnya, kami harus jadi dokter dulu. Kami diagnosa.

“Ini bahannya apa? Cat minyak? Akrilik? Atau cat air?” “Umurnya berapa tahun? Kanvasnya sudah rapuh belum?” “Kayunya jenis apa? Jati tua atau kayu lunak?”

Kenapa harus serepot itu?

Karena beda bahan, beda obatnya. Pernah ada kejadian nyata (ini sering banget terjadi di luaran sana), lukisan oil painting yang belum 100% cured alias kering total, langsung dihajar bungkus bubble wrap ketat.

Hasilnya?

Pas nyampe di negara tujuan yang suhunya beda drastis, itu plastik nempel ke lukisan. Lukisannya “keringetan”.

Di HSH, kalau kami tahu itu cat minyak, kami nggak akan biarkan plastik menyentuh permukaannya langsung. Haram hukumnya. Kami pakai kertas glassine yang acid-free, atau kami buatkan travel frame biar permukaannya nggak kegencet. Ribet? Iya. Tapi ya itu seninya.

Getaran Jalanan

Prinsip kedua… Jangan percaya sama jalanan.

Serius deh. Jalanan mau di Indonesia atau di luar negeri itu kejam. Guncangan truk, getaran mesin pesawat, ombak laut… itu semua musuh bebuyutan barang seni yang rapuh.

Banyak yang mikir “Yang penting luarnya peti kayu tebal, pasti aman.”

Salah besar.

Peti kayu itu cuma kulit. Yang menyelamatkan isinya itu “daging”-nya alias cushioning-nya.

Kami selalu pakai prinsip suspension. Barang di dalam peti itu harus “melayang” tapi nggak boleh goyang. Paham nggak maksudnya? Jadi dia ditahan sama busa Ethafoam (bukan styrofoam remah-remah ya, itu mah buat elektronik murah) di titik-titik krusial.

Tujuannya biar getaran dari luar diredam sama busanya, nggak ngerambat ke karya seninya.

Saya sering bilang ke tim, “Anggap kalian lagi bawa bayi baru lahir naik motor trail di jalan berbatu. Gimana caranya biar bayinya nggak kebangun?” Nah, sehalus itu harusnya perlakuannya.

Kelembaban: Si penghancur dalam kesunyian

Terus yang ini nih… yang tadi bikin saya kopi saya terasa pahit. Jamur.

Prinsip kami: Kendalikan udaranya.

Di dalam kontainer laut, suhu itu bisa naik turun kayak emosi orang lagi PMS. Siang panas banget, malam dingin banget. Perubahan ini bikin kondensasi. Muncul air.

Kalau Anda cuma modal nekat kirim patung kayu tanpa desiccant (penyerap lembab) ukuran industri… ya wassalam. Kayunya bisa melengkung, retak, atau malah jadi kebun jamur pas sampai Eropa.

Kami nggak pelit soal silica gel. Kami sebar itu barang di dalam peti kayak nabur benih padi. Banyak. Harus banyak.

Dan kalau barangnya super mahal, kami nggak main-main, kami sarankan pakai climate-controlled crate. Peti yang suhunya terjaga. Mahal memang, tapi dibanding rugi miliaran? Coba Anda hitung sendiri deh.

Saksi Bisu

Terakhir… eh sebenernya masih banyak sih, tapi ini yang krusial. Transparansi.

Kami pasang “saksi bisu” di peti kemas. Namanya Shockwatch dan Tiltwatch.

Itu stiker kecil, tapi canggih. Kalau peti itu pernah dibanting kurir, atau dimiringkan lebih dari sudut tertentu (padahal udah ada tulisan THIS SIDE UP segede gaban), stikernya berubah warna jadi merah.

Jadi pas barang sampai, nggak ada tuh drama saling tuduh. “Ini rusaknya dari gudang atau pas di jalan?” Lihat aja stikernya. Kalau merah, berarti ada yang kasar di jalan.

Ini bikin tim lapangan baik tim kami maupun pihak ketiga kayak maskapai jadi mikir seribu kali buat main kasar. Mereka tahu mereka diawasi.

Bagaimana dengan Bisnis Anda?

Jadi begitulah…

Mengurus ekspor barang seni itu bukan cuma soal mindahin barang. Itu soal menjaga sejarah. Menjaga emosi pelukisnya. Menjaga investasi kolektornya.

Pernah nggak Anda kirim barang, terus pas sampai tujuan ada yang cacat dikit, dan ekspedisinya cuma bilang “Maaf Pak, namanya juga di jalan”?

Kalau pernah, berarti Anda belum ketemu partner yang tepat.

Di hsh.co.id, kami nggak sempurna (kesempurnaan hanya milik Allah, kan ya?), tapi kami punya prinsip. Dan prinsip itu yang bikin klien kami bisa tidur nyenyak sementara barang mereka melintasi samudra.

Udah ah, saya mau bikin kopi baru lagi. Yang tadi udah dingin dan nggak enak. Kalau ada yang mau didiskusikan soal pengiriman barang seni atau mau curhat soal pengalaman kirim barang kontak aja tim kami ya. Kita ngobrol santai.Good luck buat pameran atau pengirimannya nanti!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses