Kolaborasi dengan Pengrajin dan Galeri, Membangun Jembatan Menuju Dunia

Teman saya, sebut saja Rina, punya galeri seni kecil di Yogyakarta. Orangnya super kreatif, matanya jeli banget lihat talenta baru. Tapi…

Dua malam lalu dia telepon saya. Jam 11 malam. Suaranya udah kayak mau nangis.

Dia lagi pusing tujuh keliling ngurusin shipment buat pameran di Art Fair Singapore. Karyanya ada lima. Dari lima seniman beda-beda. Lokasinya? Beda-beda juga. Ada yang di Bandung, di Jogja, di Bali.

Dia teriak-teriak di telepon, “Gila ya, gue ini kurator seni apa kuli panggul?! Kenapa jadi gue yang mikirin peti kayu?! Gue nggak ngerti!”

Saya cuma bisa tarik napas panjang.

Nah… ini dia. Ini masalah yang paling sering saya lihat di industri kreatif. Pengrajin dan pemilik galeri itu… mereka kan “dewa”-nya di dunia ide. Dunia rasa. Dunia estetika. Tapi begitu disuruh ngurusin hal teknis kayak invoice komersial, HS Code, atau regulasi pabean… langsung crash. Langsung pusing.

Logistik Itu Nggak Bisa Sendirian

Banyak yang mikir, “Ah, HSH Cargo kan perusahaan logistik. Ya tugasnya cuma angkut barang, kan?”

Kalau yang Anda kirim itu tumpukan bata merah, mungkin iya.

Tapi kalau yang Anda kirim itu lukisan seharga mobil, yang dibuat pakai campuran cat minyak dan abu vulkanik (ini beneran ada lho), ceritanya beda.

Ekspor itu kayak mau bikin film. Seniman itu sutradaranya. Galeri itu produsernya. Nah, kami di HSH Cargo? Kami ini line producer atau manajer lokasi. Kami yang pastikan semua perintilan di lapangan beres, biar sutradaranya bisa fokus teriak “Action!”

Nggak bisa “main keroyokan” sendirian. Bahaya.

Filosofi kami itu kolaborasi. Kami bukan vendor. Kami adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan ide brilian Anda di studio yang tenang, ke panggung pameran yang riuh di New York atau Paris.

Dan jembatan ini dibangun dari dua arah.

Bagi Galeri: Kami Bukan Cuma Ngangkut, Kami Mengkonsolidasi

Masalah Mbak Rina tadi itu klasik. Namanya consolidation. Ngumpulin barang dari banyak titik buat jadi satu kiriman.

Forwarder biasa bakal bilang, “Barangnya anter aja ke gudang saya di Priok.” Repot kan? Anda harus ngurus truk sendiri dari Bandung, ngurus kargo sendiri dari Bali. Pusing.

Kami di HSH… ya nggak gitu juga sih… maksud saya, kami paham repotnya. Kami tahu waktu Anda lebih berharga buat dipakai negosiasi sama kolektor daripada dipakai teleponan sama sopir truk.

Kolaborasi buat kami artinya kami yang jemput bola.

Tim kami yang akan jemput ke studio seniman A di Bandung. Tim kami juga yang akan handle kiriman dari seniman B di Jogja. Kami pastikan packing di sana udah bener, sesuai standar kami yang kaku itu. Baru kami bawa ke gudang kami di Jakarta buat disatuin.

Jadi galeri tinggal terima beres. Terima satu laporan terpusat. Anda fokus aja kurasi karya, biar kami yang kurasi packing list-nya.

Bagi Pengrajin: Kami Jadi “Penerjemah” Bahasa Pabean yang Ruwet

Beda lagi ceritanya sama pengrajin. Apalagi yang baru pertama kali dapat order ekspor.

Dapat PO dari pembeli di Paris. Seneng? Banget.

Tapi 5 menit kemudian, panik.

Disuruh bikin commercial invoice, bingung isinya apa. Ditanya HS Code, apaan tuh? Ditanya V-Legal buat produk kayunya, beli di mana?

Kalau Anda tanya ke forwarder biasa, mereka bakal lempar formulir, “Isi aja Pak.”

Lha, ngisinya gimana?

Kolaborasi di sini artinya edukasi. Kami duduk bareng (atau Zoom call lah ya). Kami nggak cuma minta dokumen. Kami jelasin.

“Oke Pak, yang pertama kita siapkan invoice. Ini penting banget. Serius, invoice ini penting banget karena ini jadi dasar perhitungan pajak di sana.”

“Terus yang berikutnya soal kayu… nah ini harus pakai V-Legal, nanti kami bantu cek prosedurnya.”

“Oh iya, HS Code-nya nanti kami bantu carikan yang pas biar pajaknya nggak salah…”

Kami jadi “Google Translate” Anda. Menerjemahkan bahasa “planet” Bea Cukai ke bahasa manusia yang Anda pahami.

Forwarder Itu Transaksional, Partner Itu Relasional

Ini beda paling mendasar.

Forwarder biasa? Transaksional. Anda bayar, mereka kirim. Ada masalah? “Maaf Pak, prosedurnya memang begitu.” Selesai. Dingin kayak robot.

Partner (dan ini yang HSH pegang teguh) itu relasional. Kami investasi waktu di Anda. Kami mau bisnis Anda tumbuh.

Saya sering banget ngopi sama klien-klien galeri, kadang ngobrolnya ngalor-ngidul soal tren seni terbaru… eh tapi dari obrolan santai itu saya jadi tahu, “Oh, ternyata 3 bulan lagi ada pameran besar, berarti saya harus siapin alokasi space kapal dari sekarang.”

Kami jadi “ban serep” Anda. Anda nggak perlu pakai kami setiap hari. Tapi pas Anda butuh, kami ada. Siap.

Jembatan itu nggak bisa dibangun satu arah. Pengrajin dan galeri butuh kami buat nyebrang. Dan jujur aja, kami butuh karya hebat Anda buat “di-nyebrang-in”, biar kami bangga bisa bilang, “Itu lho, karya anak bangsa yang keren itu, kami yang bantu kirim.”

Pokoknya kalau Anda pusing soal logistik… jangan dipendam sendirian. Serius. Mending telepon kami di HSH.co.id. Kita ngobrol. Ngopi. Siapa tahu pusingnya pindah ke kepala saya. Hahaha…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses