
Saya beberapa bulan lalu lagi transit di Changi, Singapura. Sambil nunggu boarding, saya iseng lihat-lihat toko souvenir. Mata saya tertuju ke rak kemeja “Batik”.
Hati saya mencelos.
Itu kemeja motif parang, warnanya bagus. Tapi pas saya pegang bahannya… kasar. Dan pas saya balik labelnya? “Made in China”.
Nyesek.
Jujur, saya nggak anti produk China. Nggak sama sekali. Tapi yang bikin saya sedih adalah… kok bisa “identitas” kita, warisan leluhur kita, diobral murah di bandara internasional dengan label negara lain?
Di situ saya sadar. Ini bukan cuma perang harga. Ini perang budaya.
masalahnya Tuh di Sini: Saat ‘Masterpiece’ Diperlakukan Dengan Tidak Layak
Masalah terbesarnya apa?
Banyak pengusaha atau forwarder kita sendiri yang memperlakukan identitas bangsa ini kayak barang komoditas biasa.
Pernah nggak Anda bayangin skenario horor ini?
Ada pengrajin batik tulis di Pekalongan. Bikin kain, 3 bulan, pakai canting, pakai malam panas, penuh filosofi. Karyanya masterpiece. Laku dibeli kolektor di London.
Terus, si pengrajin (karena nggak ngerti) kirim pakai jasa kargo “asal murah”.
Apa yang terjadi?
Si forwarder ini nggak peduli. Kain itu dilipat asal-asalan, dibungkus plastik kresek, dilempar ke kontainer LCL (“nebeng angkot”) yang isinya campur aduk sama ban bekas dan sparepart mesin yang bau oli.
Sampai di London? Udah lecek. Apek. Ada bercak jamur.
Si kolektor di London buka paketnya. Dia bandingin sama batik print “Made in China” yang dia beli di Amazon seharga 10 Dolar. Dia pegang… dia cium… dan dia mikir, “Ah, sama aja. Nggak istimewa.”
Selesai.
Di detik itulah, “identitas bangsa” kita kalah telak. Bukan karena karyanya jelek. Tapi karena si forwarder tadi gagal mengantarkan valuenya.
Misi HSH Dimulai dari “Rasa”, Bukan “Angka”
Di HSH Cargo, kami menolak cara kerja robotik kayak gitu. Misi kami beda.
Kalau Anda (seniman, pengrajin, galeri) datang ke kantor kami di Surabaya, tim saya nggak akan langsung nanya, “Berapa kubik, Pak?” atau “Berapa kilo, Bu?”
Nggak.
Pertanyaan pertama kami adalah: “Ceritanya apa?”
Iya, ceritanya. Ini penting. Serius, penting banget.
Kami harus tahu. Ini lukisan cat minyak di atas kanvas? Atau patung kayu Asmat? Atau kain tenun Sumba?
Kenapa?
Karena solusinya beda-beda. Kalau forwarder biasa main pukul rata, kami nggak bisa. Lukisan cat minyak itu (apalagi yang baru) “alergi” sama plastik bubble wrap kalau nempel langsung. Bisa lengket. Bisa rusak pigmen warnanya.
Kain tenun Sumba yang pakai pewarna alam? Dia “alergi” sama kelembaban ekstrim di tengah laut. Kalau salah bungkus, sampai tujuan bisa jamuran.
Misi kami adalah menghargai cerita itu. Dan cara kami menghargai adalah dengan nggak main pukul rata.
Identitas Itu Rapuh (Jadi Nggak Bisa Diperlakukan Kasar)
Identitas bangsa itu… rapuh.
Ini bukan cuma kiasan lho. Beneran rapuh secara fisik.
Ukiran Jepara yang detailnya rumit itu gampang patah. Keramik dari Singkawang itu gampang retak.
Kalau masalahnya adalah “takut rusak”, maka solusi kami adalah “Baju Zirah” yang Dibuat Khusus.
Kami nggak akan lempar barang Anda pakai kardus bekas. Nggak akan. Tim kami akan ukur, kami akan desain peti kayu custom yang pas.
Dan bukan cuma peti kayu.
Kayunya harus standar ISPM 15 (ini stempel sakti biar peti Anda nggak ditolak atau dibakar bea cukai di Australia atau Eropa). Di dalamnya, kami pakai shock absorber yang pas. Biar kalau truknya kena guncangan di jalan… atau pas pesawat kena turbulensi… “jiwa” karya Anda di dalam tetap tenang.
Cerita Nggak Boleh “Mati” di Meja Pabean
Karya Anda sudah aman di dalam peti. Udah siap berangkat.
Terus “mati” di meja pabean.
Ngeri? Iya.
Ini masalah kedua. Anda kirim ukiran patung dari kayu sonokeling. Keren banget. Tapi di mata petugas bea cukai Amerika, itu bukan “karya seni”. Itu adalah “produk kayu yang berpotensi ilegal dan membawa hama”.
Zonk. Ditahan. Disuruh kirim balik.
Misi kami di HSH adalah jadi “jembatan birokrasi”. Kami yang pastikan dokumennya beres. V-Legal-nya ada. Surat Keterangan CITES-nya (kalau pakai bahan alam kayak kerang) lengkap. HS Code-nya tepat.
Biar apa?
Biar “identitas” Anda itu melenggang mulus di green line, bukan “merangkak” susah payah di red line.
Ini Bukan ‘Beban’, Ini Kebanggaan
Ya gitu deh…
Jadi kalau Anda tanya apa misi HSH? Misi kami adalah jadi partner yang punya “rasa”. Yang ngerti bedanya “batik tulis” sama “kain print”.
Jujur aja, ngurusin ginian tuh ribet. Ribet banget. Tapi setiap kali tim saya kirim kabar, “Mbak, patung klien kita udah lolos pabean Jerman!” atau “Lukisannya udah nempel cantik di galeri New York!”…
Aduh. Itu rasanya… bangga.
Bukan cuma bangga bisnis. Tapi bangga sebagai orang Indonesia.
Udah ah, jadi serius banget kan saya ngomongin ginian. Tapi emang ini yang saya rasakan sebagai GM di HSH Cargo Surabaya. Kalau Anda… pengrajin, seniman, pemilik galeri… punya karya hebat tapi masih takut-takut mau bawa dia keliling dunia…
Jangan disimpan aja.
Mampir ke kantor kami. Kita ngopi. Kita obrolin “cerita” di balik karya Anda. Nanti kami yang bantu pikirin cara teraman buat bawa cerita itu ke panggung dunia.Saya mau lanjut kerja dulu. Wassalam