
Ngeri.
Sumpah, ngeri banget.
Tadi pagi saya baca berita di grup komunitas logistik soal kasus pembajakan truk kontainer di jalan lintas provinsi. Isinya elektronik mahal. Raib. Supirnya ditemukan di pinggir jalan dalam keadaan… yah, gitulah.
Pas baca itu, bulu kuduk saya merinding. Bukan cuma karena kriminalitasnya, tapi karena saya bayangin gimana hancurnya perasaan si pemilik barang.
Modal hilang.
Kepercayaan customer hilang.
Bisnis bisa gulung tikar cuma dalam semalam.
Dan tau nggak yang bikin saya makin gemes? Ternyata vendor trucking yang dipake itu vendor “lepasan”. Vendor yang dipilih cuma karena harganya miring 100-200 ribu perak, tanpa dicek background-nya, tanpa dicek GPS-nya jalan apa nggak.
Logistik itu… gimana ya jelasinnya… logistik itu “main keroyokan”.
Kita nggak kerja sendirian. HSH Cargo nggak punya kapal sendiri. Kita sewa space kapal. Kita sewa truk. Kita sewa gudang.
Jadi, kualitas layanan kami ke Anda itu sangat, SANGAT bergantung sama siapa “teman main” yang kami ajak.
Kalau kami salah pilih teman… Anda yang kena getahnya.
Makanya hari ini saya mau buka-bukaan dikit soal gimana caranya nyaring vendor. Bukan buat pamer SOP, tapi biar Anda tau kalau di balik meja kerja saya yang berantakan ini, ada proses seleksi super ketat demi nyelamatin barang Anda.
Satu Apel Busuk, Satu Keranjang Dibuang
Pernah denger pepatah itu kan?
Di rantai pasok / supply chain, prinsip ini berlaku mutlak.
Bayangin gini. Anda impor barang dari China.
Forwarder di China bagus.
Kapal lautnya bonafide.
Pengurusan Bea Cukai lancar jaya.
TAPI… pas barang keluar pelabuhan, diangkut sama truk yang bannya sudah botak karena vendornya males maintenance.
Duar. Pecah ban di tol. Truk terguling. Barang rusak.
Semua kerja keras di tahap sebelumnya? Sia-sia. Nol besar.
Ini yang sering dilupakan banyak orang. Mereka fokus cari harga termurah di total tagihan, tapi lupa nanya: “Ini vendor-vendor di belakang layarnya siapa aja? Kredibel nggak?”
Saya sering bilang ke tim procurement saya, “Kalian kalau cari vendor truk, anggap aja kalian mau nitipin anak kalian naik mobil itu. Kalau kalian ragu, JANGAN PAKE.”
Keamanan itu nggak bisa ditawar pake diskon. Titik.
Seni Memilih Vendor
Terus gimana cara taunya vendor itu bagus atau cuma “kaleng-kaleng”?
Susah-susah gampang sih sebenernya.
Yang pertama nih… dan ini filter paling dasar… Legalitas.
Bukan cuma SIUP/NIB lho ya. Tapi asuransinya. Mereka punya asuransi tanggung gugat atau liability insurance nggak? Kalau supir mereka lalai dan ngerusak barang orang, mereka sanggup ganti nggak?
Banyak vendor murah yang kalau ada masalah cuma bilang: “Maaf Pak, supirnya kabur.” Terus lepas tangan.
Duh, pengen nyakar tembok rasanya kalau denger gitu.
Terus yang berikutnya… Kesehatan Finansial.
Lho kok ngurusin dapur orang?
Ya harus!
Vendor yang cashflownya seret biasanya bakal motong biaya maintenance. Bannya nggak diganti, olinya telat, supirnya digaji murah padahal ini yang bikin supir jadi rawan kriminal.
Saya pernah coret satu vendor kapal feeder karena denger gosip mereka telat bayar gaji kru 3 bulan. Risikonya terlalu besar. Kalau krunya mogok kerja pas barang Anda di atas kapal gimana?
Jangan Cuma Transaksional, Jadikan Partner
Ada rahasia kecil nih.
Vendor yang bagus itu biasanya… agak jual mahal. Serius. Mereka tau kualitas mereka.
Cara HSH “mengikat” mereka bukan cuma dengan kontrak kaku, tapi dengan hubungan. Kita bayar tagihan mereka tepat waktu. Kita ajak ngopi. Kita dengerin keluhan mereka soal macet di pelabuhan.
Kenapa kita repot-repot gitu?
Supaya pas peak season… pas truk langka, pas space kapal rebutan… mereka bakal prioritasin HSH.
“Bu, tenang aja, buat HSH saya sisakan 5 unit truk.”
Itu value yang kami tawarkan ke Anda.
Anda nggak perlu pusing nyari truk pas lebaran. Anda nggak perlu pusing nego sama pemilik gudang yang galak. Biar itu jadi pusingnya saya. Anda terima beres.
Kisah Horor
Ada kejadian nyata, bukan klien saya, tapi kejadian di industri furnitur Jepara.
Eksportir ini dapet order gede ke Eropa. Dia cari forwarder yang kasih harga “too good to be true”. Murah banget.
Ternyata, forwarder ini pake vendor gudang penumpukan yang atapnya bocor dan nggak punya palet standar. Pas ujan deres, air masuk. Furnitur dari kayu mahoni yang harganya ratusan juta itu… basah. Jamuran.
Pas nyampe Eropa, buyer nolak terima.
Ruginya double kill. Rugi barang, plus harus bayar biaya pemusnahan di negara tujuan yang angkanya bikin jantungan.
Siapa yang salah?
Ya bisa dibilang salah pilih vendor. Si forwarder “murah” tadi cuma angkat bahu, “Ya kan musibah alam, Pak.”
Padahal kalau dia pilih vendor gudang yang bener, “musibah” itu nggak bakal ngerusak barang.
Intinya Sih…
Mengelola vendor itu seni menjaga kepercayaan.
Saya nggak berani tidur nyenyak kalau tau barang klien saya dibawa sama orang yang nggak jelas. Makanya di HSH, proses seleksi vendor itu ketatnya minta ampun. Lebih ketat daripada seleksi mantu kayaknya.
Kami yang saring lumpurnya, biar Anda dapat air jernihnya.
Jadi… kalau besok-besok Anda lihat penawaran logistik yang harganya jatuh banget di bawah pasaran, coba deh kritis dikit. Tanya dalam hati: “Ini dia pake truk apa ya? Pake kapal apa ya? Aman nggak ya?”
Karena di bisnis, peace of mind alias ketenangan pikiran itu aset yang paling mahal.
Udah ah, saya mau lanjut nge-audit vendor trucking baru nih. Katanya sih bagus, tapi mau saya cek dulu beneran bagus apa cuma bagus di brosur doang. Wassalam