Perubahan Kebijakan Impor yang Harus Diwaspadai Pelaku Bisnis

Kepala saya masih agak nyut-nyutan nih.

Tadi pagi banget, jam 7 kurang, hp saya udah ringing terus. Ada salah satu importir tekstil telepon sambil marah-marah. Bukan marah ke saya sih, tapi marah ke situasi. Katanya, kontainer dia yang isinya bahan kain polyester tiba-tiba kena “lampu merah” di sistem Bea Cukai.

Padahal? Dokumen lengkap. Pajak sudah dibayar.

Masalahnya ternyata sepele tapi fatal: Ada revisi aturan Lartas (Larangan dan Pembatasan) yang baru aja rilis dua hari lalu, dan staf dia belum update. Akibatnya? Izin Impor (PI)-nya dianggap gak valid.

Duh.

Kejadian kayak gini tuh… jujur aja ya… bikin saya ikut mules. Beneran mules.

Kita semua tau lah, regulasi impor di Indonesia itu dinamisnya luar biasa. Kalau cuaca Surabaya bisa panas terik tiba-tiba hujan, regulasi kita bisa berubah pagi-sore. Dan di penghujung 2025 menuju 2026 ini, vibe-nya makin terasa beda. Pemerintah lagi gencar-gencarnya “berbenah”.

Buat Anda yang bisnisnya sangat bergantung sama barang impor, entah itu bahan baku atau barang jadi, please banget… jangan lengah. Jangan cuma asyik jualan sampai lupa nengok aturan main yang lagi dibuat oleh pusat.

Yuk, kita bedah bareng-bareng apa aja sih “jebakan” baru yang harus diwaspadai. Anggap aja ini bocoran dari orang dalem yang tiap hari nongkrong di pelabuhan.

Pergeseran dari Post-Border ke Border

Inget nggak dulu ada masa-masa indah dimana pemeriksaan barang banyak dilakukan di Post-Border?

Artinya, barang bisa keluar dulu dari pelabuhan, baru nanti diperiksa dokumen izin edarnya di gudang importir. Enak kan? Barang cepet keluar, cashflow lancar.

Nah, sekarang arah anginnya berubah.

Pemerintah mulai balikin banyak komoditas terutama elektronik, alas kaki, tekstil, dan kosmetik untuk kembali ke pemeriksaan BORDER.

Artinya apa?

Artinya barang TIDAK AKAN BISA KELUAR dari pelabuhan seinci pun kalau izinnya belum lengkap 100%.

Ini dampaknya gede banget. Kalau dulu Anda bisa “curi start” jualan sambil ngurus izin edar, sekarang nggak bisa. Kalau dokumen kurang satu lembar aja, itu kontainer bakal jadi patung di pelabuhan. Dan tau kan siapa yang seneng? Operator pelabuhan. Soalnya tagihan storage dan demurrage Anda bakal jalan terus kayak argometer taksi kuda.

Boncos? Pasti.

Jadi saran saya… eh bukan saran sih, ini wajib… pastikan LS (Laporan Surveyor) dan PI (Persetujuan Impor) udah di tangan SEBELUM kapal sandar. Jangan main api.

TKDN yang Makin Agresif

Rasanya makin kesini makin ketat kan?

Iya, emang. Pemerintah lagi galak-galaknya mendorong industri dalam negeri. Bagus sih sebenernya buat ekonomi makro, tapi buat importir? Pusing.

Beberapa kategori barang yang tadinya bebas masuk, sekarang mulai kena kuota ketat atau wajib punya sertifikat TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tertentu kalau mau masuk katalog pemerintah.

Saya sering lihat kasus di mana importir alat kesehatan mendadak nggak bisa suplai ke rumah sakit negeri karena produk impornya kalah saing sama regulasi TKDN ini.

“Mbak, terus gimana dong?”

Ya mau nggak mau… Anda harus mulai mikirin strategi sourcing ulang. Atau kalau bisa, mulai rakit di sini. Jangan nekat impor barang jadi utuh fully built up kalau tren regulasinya lagi “anti” sama barang itu. Cek ombak dulu. Jangan asal nyebur.

Integrasi Data yang Bikin Nggak Bisa “Nakal”

Dulu mungkin masih ada oknum yang bisa main-mainin HS Code atau under-value invoice biar pajaknya murah.

“Ah, beda dikit nggak ketahuan lah.”

Sekarang?

Lupakan. Big Data pemerintah itu makin canggih dan ini yang bikin saya ngeri sekaligus kagum. Sistem Bea Cukai, Pajak, sama Kemendag itu sekarang kayak… gimana ya… kayak grup WA keluarga. Informasinya nyebar cepet banget dan saling terhubung.

Kalau Anda lapor nilai impor di Bea Cukai sekian, tapi di laporan SPT Tahunan beda… bip bip! Sistem bakal flagging. Audit bakal datang.

Risikonya bukan cuma denda, tapi izin impor Anda bisa dibekukan. NIK (Nomor Induk Kepabeanan) Anda bisa di-blokir. Kalau udah gini, bisnis berhenti total. Bahaya.

Jadi kuncinya sekarang tuh transparansi. Mending bayar pajak full tapi tidur nyenyak, daripada under-invoice tapi tiap ada surat dari kantor pajak langsung deg-degan kayak ketemu mantan.

Isu Lingkungan: “Green Packaging” Bukan Cuma Gimmick

Eh ada satu lagi yang sering dianggap remeh.

Soal lingkungan.

Mulai tahun depan, pengawasan soal kemasan (packaging) barang impor bakal makin ketat. Styrofoam, plastik sekali pakai tertentu, atau palet kayu yang nggak standar ISPM #15… itu semua bakal jadi masalah.

Kemarin ada klien HSH yang impor mesin dari China. Barangnya aman, izin lengkap. TAPI… palet kayunya ternyata nggak ada stempel fumigasi standar internasional.

Hasilnya?

Barang ditahan. Harus fumigasi ulang di pelabuhan tapi biayanya mahal banget, atau malah re-ekspor. Cuma gara-gara kayu alas doang lho ini!

Dunia lagi bergerak ke arah sustainable trade. Jadi pastiin supplier Anda di luar negeri itu paham standar kemasan yang ramah lingkungan dan sesuai regulasi Indonesia. Jangan sampai barang bagus jadi sampah cuma gara-gara bungkusnya nggak lolos sensor.

Terus, Langkah Konkretnya Apa?

Oke, napas dulu. Panjang ya ceritanya?

Intinya sih, perubahan kebijakan itu hal yang pasti. Kita nggak bisa ngelawan ombak, tapi kita bisa belajar berselancar.

Kalau boleh saya rangkum, langkah “penyelamatan” yang harus Anda lakukan sekarang juga:

1. Review Ulang HS Code. 

Serius. Cek lagi. Jangan-jangan barang yang selama ini Anda impor pake kode A, ternyata kena aturan baru dan harus geser ke kode B yang butuh izin tambahan. Konsultasi sama forwarder Anda. Kalau forwarder Anda jawabnya “Gak tau Pak”, ganti forwarder.

2. Siapin Buffer Cash. 

Regulasi baru seringkali identik dengan biaya tak terduga. Entah itu biaya compliance, biaya lab, atau biaya nunggu izin keluar. Jangan mepet-mepet duitnya.

3. Update Terus. 

Jangan males baca berita atau ikut sosialisasi Bea Cukai. Atau kalau males baca aturan yang bahasanya njelimet, sering-sering aja ngobrol sama tim kami. Kita yang bacain buat Anda.

Bisnis impor di 2026 nanti bukan buat mereka yang bermodal nekat. Tapi buat mereka yang teliti dan adaptif.

Udah ah, bubur ayam saya keburu jadi bubur air nih saking lamanya didiemin.

Semoga bisnis Anda tetap lancar jaya ya di tengah badai regulasi ini. Inget, nggak ada masalah yang nggak ada solusinya, asalkan kita mau cari tau.

Di hsh.co.id, kami nggak cuma ngasih harga. Kami ngasih strategi. Kami bantuin mikir gimana caranya karya Anda sampai ke galeri di New York atau Paris dengan kondisi pristine, mulus, tanpa cacat, dan dokumennya aman sentosa.

Ayo wujudkan hal luar biasa untuk bisnis Anda! Wassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses