
Saya ini (sebagai GM HSH Cargo Surabaya) lumayan sering keliling, kadang mampir ke galeri-galeri kecil atau workshop pengrajin di pelosok Jawa Timur. Bukan buat kerja lho… ya kadang sambil kerja sih… tapi lebih buat “cuci mata”.
Dan saya selalu takjub.
Minggu lalu saya lihat karya instalasi kontemporer dari seniman muda di Surabaya. Dia pakai campuran media—ada logam, ada resin, ada kain tenun tua. Rumit. Indah banget. Dan pas saya ngobrol sama dia… saya bisa ngerasa. Saya bisa lihat “jiwa” dia di karya itu. Ada cerita soal kegelisahan dia, soal harapan dia.
Terus dia nanya ke saya, “Mbak, kalau kirim ginian ke Eropa, susah nggak ya? Saya takut… takut diperlakukan kayak barang lainnya sama kargonya.”
DEG.
Itu dia. Ketakutan terbesar seorang seniman itu bukan karyanya nggak laku. Tapi karyanya yang dia bikin pakai darah, keringat, dan air mata diperlakukan kayak tumpukan barang lainya sama tukang angkut.
Masalahnya, Ekspedisi Biasa Nggak Punya ‘Rasa’
Jujur aja nih ya. Di industri logistik, 90% pemain itu mikirnya pakai kalkulator. Bukan pakai hati.
Mereka lihat apa?
Angka. Mereka lihat 120 x 80 x 15 cm, berat 15kg, tujuan Amsterdam, selesai, yang penting kubikasinya masuk hitungan dan bayarannya lunas. Mereka nggak peduli di dalam kotak kayu itu ada “jiwa” yang rapuh. Mereka nggak peduli ada “cerita” yang lagi Anda perjuangkan.
Buat mereka, kargo ya kargo. Benda mati.
Nah, ini yang mau saya luruskan. Di HSH Cargo… filosofi kami beda. Kami percaya setiap karya itu “hidup”. Dan karena dia “hidup”, perlakuannya nggak bisa disamain kayak kirim sparepart mobil.
Kami Bukan Cuma Ngitung Kubikasi, Kami Lihat Historinya
Ini bedanya kami. Kalau Anda datang ke HSH mau kirim karya seni, kami nggak akan langsung sodorin kalkulator. Nggak.
Tim saya bakal “kepo” dulu. Diagnosa dulu.
Kami bakal tanya:
“Ini bahannya apa? Cat minyak di atas kanvas?”
“Oh, patung kayu? Kayunya apa? Udah kering total belum?”
“Ini keramik? Pembakarannya di suhu berapa?”
Kenapa kami serepot itu?
Karena “jiwa” setiap karya itu beda-beda masalahnya!
Lukisan cat minyak (apalagi yang baru) itu “alergi” sama plastik bubble wrap yang nempel langsung. Bisa lengket. Bisa jamuran. Kalau patung kayu… dia “alergi” sama kelembaban ekstrim di tengah laut. Bisa melengkung.
Forwarder umumnya mana peduli? Buat mereka, bungkus ya bungkus. Kalau kami… kami bakal siapkan “resep”-nya dulu. Oh, ini cat minyak, berarti lapisan pertamanya harus kertas glassine bebas asam. Oh, ini patung kayu, berarti desiccant (penyerap lembab) di dalam petinya harus ekstra.
Kami menghargai “jiwa”-nya dengan cara nggak main pukul rata.
“Jiwa” Itu Rapuh
Masalah kedua yang bikin seniman nggak bisa tidur: Takut rusak fisik.
Jelas lah. Karya Anda itu one of a kind. Nggak ada cetakannya di pabrik. Sekali retak… sekali patah… ya selesai. Ceritanya tamat.
Forwarder biasa mungkin nawarin, “Packing kayu aja Pak.”
Tapi tunggu dulu. Packing kayu itu ada ilmunya. Nggak bisa asal paku pakai kayu bekas palet pasar.
Solusi kami adalah Perlindungan Berlapis (Kayak Baju Zirah Perang).
Kami nggak cuma bikin kotak. Kami bikin “ruang aman” yang tahan banting.
Yang pertama nih, kami pastikan kayunya standard ISPM 15. (Ini stempel sakti biar peti Anda nggak dibakar atau ditolak bea cukai luar negeri).
Terus yang berikutnya… ini penting banget… di dalamnya. Kami pakai busa peredam getaran (shock absorber) yang pas. Bukan styrofoam remah-remah. Biar kalau truknya ngehajar lubang di jalan tol, atau pas pesawat kena turbulensi, getarannya “mati” di busa. Nggak ngerambat ke karya Anda.
Kami mau “jiwa” itu aman, nggak stres di perjalanan.
Ceritanya Nggak Boleh “Mati” di Meja Pabean
Karya Anda itu kan bawa “cerita”. Entah cerita budaya Indonesia, atau cerita personal Anda.
Apa jadinya kalau “cerita” itu nggak pernah sampai ke pameran? Apa jadinya kalau dia “disandera” di gudang bea cukai berbulan-bulan?
Horor kan?
Ini masalah ketiga: Dokumen ruwet.
Karya Anda masterpiece. Tapi kalau dokumennya salah… misal HS Code-nya ngawur, atau nggak ada surat keterangan CITES (kalau pakai bahan alam kayak kerang atau kulit)… ya ceritanya putus.
Di sinilah peran kami sebagai “penjaga cerita”.
Kami yang bakal bantu jadi “penerjemah” bahasa planet-nya pabean. Kami yang bantu pastikan invoice-nya bener, deskripsinya detail, izin-izinnya lengkap. Biar apa? Biar “cerita” Anda lolos green line, melenggang mulus ke galeri tujuan.
Bagaimana dengan Karya Anda?
Ya gitu deh…
Jadi kalau Anda tanya apa filosofi kami? Filosofi kami simpel: Kami nggak lihat barang Anda sebagai kargo. Kami lihat itu sebagai “amanah”.
Amanah dari “jiwa” seorang seniman yang sudah kerja keras. Amanah dari “cerita” yang harus sampai ke dunia.
Kalau Anda (terutama yang di Surabaya atau Jawa Timur) punya karya hebat di studio… tapi masih takut-takut mau bawa dia keliling dunia… mampir aja ke kantor HSH Cargo Surabaya.
Kita ngopi. Kita ngobrolin “jiwa” karya Anda. Nanti kami yang pikirin cara paling aman buat bawa dia terbang.Udah ah, saya mau lanjut kerja. Wassalam!