
Kemarin malam, pas lagi mampir ke pembukaan pameran tunggal seorang kawan lama di Jakarta Selatan, saya melihat pemandangan yang agak ironis. Kawan saya ini, sebut saja Mas Dito, harusnya jadi bintang utama malam itu. Harusnya dia sibuk salaman, terima bunga, atau minimal senyum lebar lah depan kamera wartawan.
Tapi kenyataannya?
Dia malah mojok di dekat toilet, mukanya kusut kayak baju belum disetrika, sambil telponan marah-marah.
“Mas, itu kayu petinya kenapa ditahan? Kan saya udah bayar!”
Saya yang dengar cuma bisa geleng-geleng kepala. Kasihan. Serius, kasihan banget. Mas Dito ini seniman jenius, tapi dia mencoba jadi manajer logistik dadakan buat karyanya sendiri yang mau dikirim ke Singapura.
Hasilnya? Chaos.
Jujur aja nih ya… kejadian kayak gini tuh sering banget saya temui. Seniman itu otaknya kan kanan semua isinya. Imajinasi. Rasa. Estetika. Kalau disuruh mikirin regulasi pabean yang kaku dan penuh angka, ya jelas crash dong sistemnya.
Makanya, di HSH Cargo, pendekatan kami ke seniman itu beda. Kami nggak cuma datang bawa truk terus angkut barang. Nggak. Itu mah kuli panggul.
Kami memposisikan diri sebagai “Manajer Belakang Panggung”. Anda yang manggung, Anda yang dapat tepuk tangan, biar kami yang keringetan ngurusin kabel ruwet di belakang.
Kami yang Jadi “Google” Pribadi Anda (Tapi Lebih Pintar Dikit)
Tahap pertama dan ini yang paling krusial tapi sering di-skip orang… Konsultasi awal.
Banyak seniman datang ke saya, bawa lukisan segede gaban, terus bilang: “Mbak, kirim ke Jerman ya, besok berangkat.”
Waaduuuuh.
Nggak bisa gitu.
Di HSH, sebelum kami sentuh barangnya, kami “interogasi” dulu. Bukan interogasi polisi lho ya, tapi kami bedah anatomi karyanya. Bahannya apa? Ada kayu langkanya nggak? Ada kulit hewannya nggak? Umurnya berapa tahun?
Kenapa? Karena regulasi tiap negara itu beda-beda dan aneh-aneh.
Pernah ada kasus (ini pelajaran mahal banget buat komunitas seni), kirim kerajinan dari kerang ke Amerika. Ternyata jenis kerangnya masuk daftar merah CITES. Barangnya disita, dendanya ribuan dolar. Padahal senimannya nggak tahu apa-apa, dia cuma beli bahan di pasar.
Nah, peran kami di sini adalah jadi filter. Kami yang riset.
“Mas, ini kayunya harus V-Legal ya.” “Mbak, ini karena ada unsur gading sintetis, harus ada surat pernyataannya biar nggak dikira gading gajah beneran.”
Kami yang pusing duluan, biar Anda nggak perlu minum obat sakit kepala.
Urusan Packing: Kami Jahitkan “Armor” Buat Karya Anda
Lanjut ke fisik barang.
Packing barang seni itu… gimana ya jelasinnya… itu seni di dalam seni. Nggak bisa sembarangan.
Banyak ekspedisi yang pukul rata. Pokoknya kayu, paku, beres. Padahal kalau lukisan oil on canvas dibungkus plastik biasa pas cuaca panas, itu cat bisa nempel ke plastik. Rusak.
Di HSH, kami perlakukan karya Anda kayak bayi prematur. Spesial banget.
Kami siapin material yang bener. Kertas glassine yang bebas asam (acid-free) buat lapisan pertama. Corner guard biar sikunya nggak penyok. Busa Ethafoam yang densitasnya pas buat nahan guncangan.
Dan yang paling penting: Kayunya.
Dunia internasional itu paranoid sama hama kayu. Jadi kami pastikan peti (crate) yang kami bikin itu kayunya udah punya “paspor” alias standar ISPM 15. Udah difumigasi. Jadi pas nyampe pelabuhan di Eropa atau Australia, petugas bea cukai di sana nggak punya alasan buat nolak atau bakar itu peti.
Pernah ada klien yang nekat packing sendiri pakai kayu bekas palet pasar biar hemat. Sampai di tujuan, barangnya ditolak masuk. Disuruh re-ekspor alias balik kanan ke Indonesia. Ongkos baliknya? Tiga kali lipat harga barangnya. Boncos total.
Dokumen Siluman? Biar Kami yang “Jinakkan”
Ini bagian yang paling membosankan sedunia, tapi kalau salah, Anda bisa nangis darah. Dokumen.
Ada Commercial Invoice, Packing List, Certificate of Origin, belum lagi kalau butuh surat keterangan dari Galeri Nasional kalau barangnya dicurigai cagar budaya.
Seniman mana sempat mikirin beginian? Mas Dito yang saya ceritain di awal tadi, dia stres gara-gara salah input kode HS (Harmonized System). Barangnya yang harusnya bea masuk 0% (karena seni asli), malah kena pajak barang mewah karena salah kode.
Di HSH Cargo, tim dokumen kami itu matanya tajam-tajam. Teliti banget.
Kami yang draft-kan invoicenya. Kami yang carikan kode HS yang paling tepat dan paling menguntungkan (secara legal lho ya) buat Anda. Kami yang bolak-balik ke instansi terkait buat minta stempel ini itu.
Anda tinggal duduk manis, ngopi, atau lanjut ngelukis karya berikutnya. Tahu-tahu dokumen udah beres, rapi, lengkap.
Bagaimana dengan Bisnis Seni Anda?
Coba deh evaluasi lagi. Selama ini kalau mau pameran ke luar negeri, waktu Anda habis buat berkarya atau habis buat ngurusin printilan logistik?
Kalau jawabannya yang kedua, berarti ada yang salah sama strategi Anda.
Energi kreatif itu mahal. Jangan dibuang-buang buat ngurusin hal yang bukan keahlian Anda.
Serahkan ke ahlinya. Di HSH.co.id, kami bangga bisa jadi “kru belakang panggung” buat banyak seniman hebat Indonesia. Melihat karya klien kami terpajang di galeri New York atau Paris dengan kondisi mulus, itu kepuasan batin buat kami. Beneran.
Jadi, kalau ada rencana kirim-kirim dalam waktu dekat, jangan sungkan buat ngontak kami. Kita ngopi dulu, diskusi dulu. Gratis kok kalau cuma ngobrol.
Ingat, fokus aja bikin masterpiece. Biar kami yang pastiin dunia bisa melihatnya.
Good luck buat project selanjutnya!