
Jangan Sampai Koleksi Mahal Jadi Sampah, Ini Cara Mencegahnya
Barusan banget saya lihat video di TikTok yang lewat di FYP. Ada orang unboxing paket lukisan yang dia beli mahal-mahal dari luar negeri. Videonya estetik, lagunya enak, tapi pas dibuka… jeng jeng. Bingkainya patah jadi dua. Kanvasnya sobek di tengah.
Yang bikin video cuma bisa ketawa miris. Tahu kan ketawa orang yang saking stresnya malah jadi “hahaha” doang? Nah, itu.
Jujur, lihat video itu saya jadi mules sendiri.
Soalnya di HSH Cargo, ketakutan terbesar kami dan harusnya jadi ketakutan Anda juga sebagai seniman atau kolektor bukan soal barang hilang dicuri maling. Kalau hilang, ya sudah hilang. Kerugian hanya finansial. Tapi kalau barang sampai di tujuan dalam kondisi “cacat”, itu sakitnya beda. Ada rasa bersalah, ada kerugian finansial yang bikin pusing, dan ada reputasi yang hancur.
Banyak klien yang datang ke saya dengan polosnya bilang, “Mbak Er, yang penting diasuransiin kan aman?”
Aduh. Asuransi itu cuma ganti duitnya Bapak Ibu. Tapi karya seninya? Emangnya bisa dibikin ulang persis sama? Kalau itu lukisan dari tahun 1990 yang pelukisnya udah meninggal, mau minta siapa yang ngelukis ulang?
Nggak bisa kan. Makanya, sebelum Anda kirim barang seni modal nekat atau modal “katanya temen”, tolong baca ini dulu. Ini risiko-risiko yang sering nggak kelihatan tapi fatal banget.
Ancaman Utama Bukan Cuma Benturan, Suhu Itu Jahat Banget
Risiko pertama yang paling sering diremehkan orang adalah… Suhu dan Kelembaban.
Kita tinggal di Indonesia. Tropis. Panas. Lembab. Terus barang dikirim ke Eropa yang lagi musim dingin atau ke negara 4 musim yang udaranya kering banget.
Perubahan drastis ini buat barang seni itu kayak siksaan.
Kayu bisa memuai atau menyusut. Kanvas bisa kendor. Cat minyak bisa retak-retak kayak tanah kekeringan. Pernah ada kasus (bukan klien HSH Cargo untungnya), patung kayu dikirim tanpa climate control. Sampai di tujuan, patungnya retak seribu. Padahal packing luarnya mulus, peti kayunya aman, nggak ada lecet sedikitpun.
Masalahnya ada di udara. Jadi solusinya gimana dong?
Jangan pelit di packing material. Serius. Gunakan bahan yang bisa menjaga kestabilan suhu. Atau kalau barangnya super sensitif, ya mau nggak mau harus pakai layanan khusus yang temperaturnya dijaga. Memang sih harganya lebih mahal dikit… Tapi dibanding karya seharga ratusan juta jadi kayu bakar?
Guncangan Itu “Silent Killer”
Terus yang kedua… Guncangan. Bukan, ini bukan soal dibanting kurir. Kalau itu sih kasat mata. Ini soal vibrasi alias getaran halus tapi konstan selama perjalanan.
Bayangin lukisan Anda naik truk lewat jalanan yang ya tahulah ya kualitas jalanan kita kadang kayak gimana, selama 10 jam nonstop. Getaran itu bisa bikin pigura longgar pelan-pelan. Bisa bikin lapisan cat yang udah tua jadi rontok (flaking). Bahaya banget.
Di HSH Cargo, saya selalu cerewet soal ini ke tim operasional. “Guys, itu shock absorber-nya dipasang yang bener!”
Kita nggak bisa mengaspal jalanan biar mulus, yang bisa kita lakukan adalah bikin “suspensi” di dalam peti kemasnya. Pakai busa khusus (foam) yang densitasnya pas. Jangan terlalu empuk kayak bantal tidur, jangan terlalu keras kayak batu bata. Harus pas buat ngeredam getaran.
Kalau Anda cuma modal ganjel koran bekas… yah, siap-siap aja terima kejutan tak menyenangkan pas unboxing.
Salah Packing = Bunuh Diri Secara Artistik
Nah ini nih. Ini poin yang paling bikin saya gemes.
Tolong, catat ini baik-baik. BUBBLE WRAP TIDAK BOLEH MENYENTUH PERMUKAAN LUKISAN LANGSUNG.
Jangan ya. Plastik bubble wrap itu kalau kena panas, dia bisa bereaksi kimia. Dia bisa nempel. Pernah lihat lukisan yang ada bekas bulatan-bulatan polkadot timbul di permukaannya? Itu “ciuman maut” dari bubble wrap.
Cara mencegahnya?
Harus ada lapisan perantara. Kertas glassine yang acid-free, atau minimal plastik khusus yang aman buat benda seni. Baru deh abis itu dibungkus bubble wrap, kardus, peti kayu, dan segala macam baju zirahnya.
Banyak yang mikir, “Ah ribet amat Mbak Er, selama ini saya kirim aman-aman aja kok.”
Ya itu namanya keberuntungan pemula alias beginner’s luck. Tunggu aja sampai kena apes sekali, nanti baru terasa boncosnya. Mending kita main aman dari awal, kan?
Dokumen yang Bikin Barang “Disandera”
Risiko berikutnya bukan fisik, tapi administratif. Barang tertahan di bea cukai alias customs. Ini mimpi buruk semua eksportir.
Alasannya bisa macam-macam. Yang paling sering? Dokumen kayu kemasannya nggak ada stempel ISPM 15.
Jadi gini, dunia internasional itu takut banget sama hama yang terbawa di kayu. Kalau Anda bikin peti dari kayu bekas palet pasar yang nggak jelas asal-usulnya, terus dikirim ke Australia atau Amerika… wah, kelar hidup lo.
Barangnya bakal ditahan. Opsinya cuma dua: Dimusnahkan di tempat (dibakar sama petugas), atau dikirim balik ke Indonesia dengan biaya yang Anda tanggung sendiri.
Sakit nggak tuh?
Makanya di HSH Cargo, kami pastikan semua peti kayu yang keluar dari gudang kami itu sudah fumigated dan ada cap resminya. Dokumennya lengkap. Jadi pas sampai di negara tujuan, petugas bea cukainya senyum, stempel, lolos.
Jangan main-main soal regulasi. Petugas bea cukai di luar negeri itu matanya tajam-tajam kayak elang. Salah satu huruf saja di invoice bisa jadi masalah panjang.
Asuransi Bukan Opsi
Terakhir… eh sebenarnya masih banyak sih, tapi ini yang paling krusial.
Uang. Risiko finansial. Kapal bisa tenggelam, pesawat bisa accident, gudang transit bisa kebakaran. Musibah itu nggak ada di kalender.
Banyak yang malas bayar premi asuransi karena merasa “ah mahal”. Padahal preminya tuh seringkali nggak seberapa dibanding nilai barangnya.
Anggap aja asuransi itu kayak helm pas naik motor. Kita nggak berharap jatuh kan? Tapi kalau pas lagi sial ada orang nyerempet, itu helm nyelamatin nyawa.
Jadi Intinya Gimana?
Duh, saya jadi ngomel panjang lebar gini. Maaf ya, kebawa emosi soalnya saya sayang banget sama karya-karya seniman Indonesia. Keren-keren lho padahal. Sayang kalau rusak cuma gara-gara hal teknis yang sebenarnya bisa dicegah.
Pengiriman barang seni itu seni tersendiri. Butuh strategi, butuh ilmu, dan butuh partner yang nggak cuma asal angkut.
Jangan jalan sendirian. Bahaya. Banyak misteri di luar sana.
Mending sini ngobrol sama tim HSH Cargo. Kita diskusi dulu. Barangnya apa, mau kirim ke mana, anggarannya berapa. Nanti kita carikan solusi yang paling win-win. Yang aman buat barangnya, dan aman juga buat dompetnya (ya relatif lah ya).
Pokoknya jangan sampai kejadian kayak video TikTok tadi menimpa Anda. Nyeseknya itu lho… nggak ada obatnya.
Udah ah, saya mau lanjut kerja lagi. Ada dokumen shipment yang mesti saya cek. Kalau butuh bantuan atau mau tanya-tanya, langsung aja kontak kami di HSH.co.id ya.
Stay safe dan terus berkarya!