Kenapa Barang Seni Perlu Perlakuan Khusus dalam Pengiriman

Tadi pagi pas lagi bengong nunggu air dispenser panas (lama banget, kayak menunggu kepastian), saya iseng scroll TikTok. Terus lewat tuh video yang lagi viral itu. Tahu kan? Yang nadanya khas banget… “Jangan ya dek ya…”

Saya ngakak. Tapi habis ketawa, mendadak saya jadi flashback. Ingat peristiwa ada calon klien, sebut saja Pak Budi (nama samaran, biar nggak kena somasi), datang bawa lukisan seharga mobil LCGC. Terus beliau bilang dengan entengnya:

“Mbak Er, ini bungkus kardus biasa aja ya, biar murah ongkirnya.”

Rasanya pengen banget saya bisikin di kupingnya Pak Budi “Jangan ya dek ya…”

Bahaya! Serius deh. Banyak banget (dan ini jujur bikin saya agak sedih sih) orang yang punya barang seni mahal, entah itu kolektor atau senimannya sendiri, tapi mindset kirim-kirimnya masih pakai logika kirim paket olshop diskonan.

Padahal?

Bukan Cuma Masalah Pecah Belah (Ini Lebih Rumit, Percayalah)

Oke, orang awam pasti mikirnya “Yang penting nggak pecah kan? Ya udah kasih bubble wrap tebel-tebel sampai kayak mummi, kelar urusan.”

Eits. Tunggu dulu.

Kalau Anda kirim patung batu kali, mungkin teori itu berlaku. Tapi kalau kita ngomongin lukisan minyak tua? Atau patung kayu yang usianya sudah ratusan tahun? Atau instalasi seni kontemporer yang bahannya campuran resin sama entah apa lagi?

Itu bubble wrap malah bisa jadi musuh dalam selimut.

Pernah ada kasus (bukan di HSH lho ya), lukisan oil painting dibungkus plastik rapet banget pas cuaca lagi panas. Apa yang terjadi? Itu lukisan “keringetan”. Lembab. Jamuran. Dan pas plastiknya dibuka… catnya nempel semua di plastik.

Nyesek nggak tuh? Hilang duit ratusan juta dalam sekejap.

Jadi begini lho… barang seni itu sensitif. Dia itu kayak makhluk hidup. Dia bereaksi sama suhu. Dia bereaksi sama kelembaban (humidity). Dia bisa “stres” kalau terguncang terlalu keras.

Masalah Guncangan

Terus faktor kedua nih…

Jalanan. Kita harus realistis. Proses pengiriman itu brutal. Mulai dari truk yang lewat jalan berlubang (tahu sendiri kan jalanan pantura atau jalanan menuju pelabuhan kayak gimana), terus pas di pelabuhan diangkat crane yang kadang ngayunnya bikin jantungan, belum lagi kalau di laut kena ombak, atau di pesawat kena turbulensi.

Kalau packing-nya cuma modal “yakin”, ya wassalam.

Di HSH Cargo, saya sering cerewet banget sama tim gudang soal ini.

“Ini peti kayunya udah dikasih shock absorber belum?” “Itu dalemnya udah dikasih foam yang acid-free belum?”

Kadang mereka sebel sih sama saya. Tapi ya gimana… lebih baik saya dibenci tim gudang daripada saya dimaki-maki klien karena barangnya nyampe dalam kondisi ambyar, kan?

Analoginya gini deh.

Anda punya bayi. Mau dibawa mudik naik truk tronton yang suspensinya keras. Apa iya bayinya cuma ditaruh di kardus indomie dikasih selimut? Nggak kan? Pasti ditaruh di car seat, dipangku, dijagain biar kepalanya nggak kejedot.

Nah, barang seni itu bayi Anda. Dan kami, HSH Cargo, itu babysitter yang galak kalau soal keamanan.

Suhu dan Kelembaban: Pembunuh Berdarah Dingin

Eh sebentar, tadi saya mau bahas apa ya… oh iya, soal kontainer.

Ini sering banget dilupakan. Orang fokusnya cuma di packing luarnya. Padahal udara di dalem kontainer pas lagi di tengah laut itu ekstrem lho.

Siang hari, panasnya bisa bikin telur setengah matang. Malam hari, dingin banget. Perubahan suhu drastis ini bikin kondensasi. Muncul air.

Kalau lukisan Anda atau patung kayu Anda nggak diproteksi dari perubahan suhu ini… kelar hidup loe. Kayu bisa melengkung (warping), kanvas bisa kendor atau malah sobek karena memuai-menyusut terus-terusan.

Makanya ada opsi namanya reefer container (kontainer berpendingin) atau minimal packing-nya harus kedap udara dan punya silica gel segede gaban buat menyerap lembab.

Ribet? Banget. Mahal? Ya relatif sih. Tapi dibanding ruginya? Murah.

Dokumennya Juga “Seni” Tersendiri

Lanjut ke hal yang paling membosankan tapi kalau salah bisa bikin masuk penjara… Dokumen.

Hahaha, nggak deng, nggak sampai masuk penjara (mudah-mudahan). Tapi ditahan bea cukai.

Barang seni itu sering banget dicurigai. “Ini asli apa palsu?” “Ini bahannya dari kulit hewan dilindungi nggak?” “Ini kayu legal nggak?” “Ini barang cagar budaya yang dilarang keluar nggak?”

Petugas bea cukai di luar negeri itu pinter-pinter. Mata elang. Kalau deskripsi barang di invoice cuma ditulis “Decoration”, siap-siap aja dibongkar paksa tuh peti.

Partner logistik yang bener kayak HSH Cargo tentunya, ehem.. Akan bantu menulis dokumen yang cantik. Maksudnya, deskripsinya harus jelas, HS Code-nya harus tepat, dan izin-izinnya (kayak sertifikat CITES kalau ada bahan alam, atau surat keterangan dari Galeri Nasional) harus lengkap.

Kami pernah mengurus ekspor keris pusaka ke Belanda. Itu dokumennya… waduh… tebalnya kayak skripsi. Tapi karena kita urus benar dari awal, lolos mulus tuh barang. Sampai di tangan kolektor dengan selamat.

Jadi, Kenapa Harus Repot-Repot?

Sebenernya intinya tuh satu.

Value alias Nilai.

Barang seni itu nilainya bukan cuma di materialnya. Kanvas sama cat minyak tuh harganya berapa sih? Murah. Kayu gelondongan juga murah.

Yang mahal itu idenya. Sejarahnya. Emosinya. “Roh”-nya.

Kalau barang elektronik rusak, bisa beli lagi di toko sebelah. Kalau lukisan Affandi rusak? Mau beli di mana? Di Shopee nggak ada.

Makanya perlakuan khusus itu WAJIB. Bukan opsi.

Jangan Main Sendirian

Saran saya nih, sebagai teman ngobrol aja… kalau Anda seniman, atau galeri, atau kolektor yang mau kirim-kirim barang seni (apalagi ke luar negeri), jangan nekat jalan sendiri.

Jangan tergiur harga murah dari ekspedisi yang biasa mengangkut baju kiloan. Beda spesialisasi.

Mending cari partner yang emang ngerti. Yang bisa diajak diskusi. “Mbak Er, ini lukisan catnya belum kering 100%, gimana packingnya?” Nah, pertanyaan kayak gitu tuh yang harusnya ditanyain.

Di HSH.Cargo, kita sering banget dapet kasus-kasus unik begini. Dan jujur aja, tim kami malah seneng. Semakin ribet tantangannya, semakin kita merasa tertantang buat buktikan kalau kita bisa handling sampai tujuan tanpa lecet sedikitpun.

Kopi saya beneran abis nih. Dan kayaknya si Pak Budi yang saya ceritain di awal tadi nge-WA lagi nanyain soal asuransi (akhirnya sadar juga dia pentingnya asuransi, syukurlah).

Pokoknya ingat ya. Kalau mau kirim barang seni jangan asal-asalan… Mending kontak HSH Cargo aja. Kita ngopi, kita diskusi, kita cari solusi yang paling aman. Sip?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses