
Kopi Mamasa mulai jadi sorotan publik sejak memenangkan kontes biji kopi terbaik dari 395 sample kopi di seluruh dunia. Dari moment membanggakan tersebut, permintaan terhadap kopi Mamasa kian meningkat baik untuk dalam dan luar negeri. Melalui jasa ekspor Sulawesi Barat, biji kopi Mamasa yang sukses mencetak rekor 90, 67 dari segi rasa dan aroma itu bisa sampai ke negeri Belanda dan Arab Saudi.
Tak tanggung-tanggung, total ekspor kopi Mamasa Sualwesi Barat setiap tahun tak kurang dari 400 ton. Hal tersebut sekaligus menandakan bahwa biji kopi ini dapat diterima di pasar internasional. Hanya saja, jasa ekspor Sulawesi Barat yang terlibat dalam pengiriman harus benar-benar bisa memastikan kualitas kopi tidak rusak atau berkurang saat sampai ke negara tujuan.
Lalu, bagaimana upaya agar kualitas rasa, aroma, serta ketahanan biji kopi tetap terjaga selama proses pengiriman berlangsung? Bongkar rahasianya di bawah ini:
Rahasia agar Biji Kopi Tidak Rusak Saat Ekspor
Berdasarkan pengalaman jasa ekspor Sulawesi Barat, diketahui bahwa kualitas dan ketahanan biji kopi ditentukan oleh 3 faktor:
Jenis Kopi
Dua jenis kopi yang umum dikonsumsi adalah robusta dan arabika. Robusta cenderung lebih awet daripada arabika karena mampu menahan suhu panas. Meski kopi mamasa dominan berjenis arabika, namun kualitas dan daya tahannya tetap bisa dipertahankan dengan teknik pemanggangan dan pengemasan yang tepat.
Penyangraian
Kopi yang masih berbentuk biji lebih awet daripada bubuk. Sebab biji kopi lebih tangguh menghadapi kelembaban ketimbang kopi yang sudah dihaluskan.
Hanya saja, bukan berarti begitu biji kopi dipanen maka langsung bisa dikemas dan dikirim begitu saja. Demi membuatnya awet dan beraroma biji kopi harus melewati tahap penyangraian terlebih dahulu.
Penyangraian (roasting) bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam biji kopi semaksimal mungkin tanpa mengubah tekstur biji kopi itu sendiri. Tetapi, penyangraian membuat biji kopi jadi berpori. Pori tersebut akan mengeluarkan karbon dioksida secara bertahap sampai benar-benar habis.
Untuk mendapatkan hasil terbaik, penggemar (roaster) juga harus paham berapa lama waktu yang pas dalam proses penyangraian dan pengistirahatan setelahnya. Sebagai catatan, semakin gelap warna kopi semakin cepat proses penyangraiannya. Namun, semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk proses pengistirahatannya sebelum pengemasan.
Pengemasan
Faktor ketiga yang menentukan tahan dan amannya biji kopi untuk pengiriman luar negeri ialah cara pengemasannya. Standar pengemasan kopi untuk kebutuhan ekspor tidak sesederhana kopi dalam negeri. Selain agar kopi tidak rusak, kemasan perlu disesuaikan dengan selera serta aturan di negara tujuan.
Mengenai pengemasan, kopi yang sudah melewati proses sangrai tidak boleh langsung masuk kemasan. Biji kopi perlu istirahat untuk mengeluarkan seluruh karbon dioksida secara alami. Durasinya bermacam-macam, bisa hitungan jam atau juga beberapa hari. Apabila karbon dioksida tidak keluar sepenuhnya, maka kemasan kopi akan menggelembung dan rusak.
Begitu pula dengan pemilihan kemasan. Kemasan harus benar-benar kedap udara. One way vape merupakan kemasan yang tergolong ideal untuk kebutuhan ekspor. Kemasan ini memilki lubang khusus untuk mengeluarkan karbon dioksida yang bisa jadi terperangkap. Tetapi oksigen tidak bakal punya akses untuk masuk ke dalam kemasan. Dengan demikian, biji kopi awet dan bebas bau tengik.
Kini Pemerintah, masyarakat, dan jasa ekspor Sulawesi Barat sedang mengupayakan meningkatkan hasil panen biji kopi Mamasa serta memperluas distribusi ke negara-negara lainnya. Semoga melalui kenikmatan kopi Mamasa, nama Indonesia semakin harum di dunia internasional.
Dan jika Anda memerlukan mitra ekspor-impor terpercaya, kami dari HSH cargo siap membantu menghubungkan bisnis Anda ke pasar global dengan layanan profesional!